Di suatu malam, Nasudrin berjalan melewati sebuah sumur. Tiba-tiba dia merasa ingin untuk menengok ke dalamnya. Dia begitu terkejut ketika melihat bayangan bulan berada di permukaan air sumur. Nasrudin berkata penuh antusias :
“ Bulan telah jatuh kedalam sumur! Aku harus menyelamatkannya!”
Dia melihat ke sekeliling dan mendapatkan seutas tali dan pengait pada bagian ujungnya. Serta merta dilemparkannya tali itu itu ke dalam sumur, lalu berteriak :
“ Pegang erat-erat kaitnya, Bulan! Aku akan menarikmu keluar!”
Pengait tersangkut pada sebuah batu besar yang ada di dalam sumur, dan Nasrudin menarik tali ke atas sekuat tenaganya. Tiba-tiba tali terputus dan Nasrudinpun jatuh terjerembab ke tanah. Saat tubuhnya menghadap ke langit, Nasrudin menyadari bahwa bulan telah berada tinggi di langit. Diapun menghela nafas penuh kelegaan, dan berkata:
“ Memang tidak mudah (mengeluarkan bulan dari sumur), tapi sungguh merupakan perasaan yang luar biasa menyenangkan mengetahui bahwa aku telah mengeluarkannya dari sumur”
Sesuatu yang abstrak yang diterima oleh hati kemudian dipercaya sungguh-sungguh akhirnya menjadi suatu keyakinan. Yakin terhadap sesuatu entah berwujud (kasat mata) atau tidak, menjadi bagian dari diri setiap individu yang mempengaruhi pola pikir dan niat yang berujung pada perbuatan.
Sebagian dari kita bisa saja tidak percaya apalagi menyakini ada orang-orang yang mengatakan bahwa balut sa puti merupakan obat mujarab yang meningkatkan daya vitalitas seseorang. Karenanya sebagaian besar warga Philipina mengkonsumsi janin bebek yang berusia delapan belas hari itu, saat memakannya jelas sekali tampak tubuh berbulu dengan mata dan paruh yang tertutup selaput berwarna darah. Demikian pula keyakinan meminum air seni sendiri sebagai obat murah meriah yang dianggap mengandung antibiotik manjur untuk segala penyakit bagi sebagian masyarakat China yang dilakukan pula oleh beberapa orang kulit putih Australia, yang meyakininya.
Meski tidak ada bukti ilmiah yang mendukung kemanjuran “cara berobat” seperti itu, tapi tidak mengurangi jumlah mereka yang mengkonsumsinya. Hingga para ahli yang menyatakan fenomena seperti ini merupakan placebo effect bahwa keyakinan adalah” the powerful medicine”.
Hal ini tak urung terjadi pula terhadap sesuatu yang tidak tampak oleh mata tetapi berpengaruh besar terhadap seseorang sepanjang hidupnya bahkan kehidupan setelah matinya. Keyakinan ini menyebabkan beragamnya agama dan aliran kepercayaan di muka bumi ini. Bahkan seorang atheispun meyakini kebenaran paham atheisnya. Meski tidak menamakan dengan sebutan khusus selayaknya agama atau isme lain, tetaplah ia berjalan membentuk sebuah keyakinan lain. Semua merasa berhak menjadi khalifah di bumi ini. Adakalanya sekelompok menghujat keyakinan kelompok lain, dengan mencapnya sebagai sebuah kefanatikan, padahal tanpa disadari (atau memang tak mau sadar) merekapun telah mengklaim kefanatikannya sendiri.
Lantas apakah kefanatikan terhadap sebuah keyakinan itu salah?
Seorang Doktor di India yang beragama Hindu sepenuhnya menyadari bahwa air sungai Gangga jelas-jelas sudah tidak murni lagi. Limbah industri bercampur kotoran hewan dan manusia juga mayat-mayat yang makin mengkhwatirkan tingkat pencemaran air sungai, telah teruji di laboratorium bahwa bakteri faecal coliform yang oleh para ilmuwan dianggap masih layak untuk dipakai mandi bila airnya mengandung maksimum 500 per 100 ml bakteri faecal coliform. Namun sampel air yang diambil dari jarak 5 meter (jarak terjauh penduduk beraktifitas) dari tepi sungai dinyatakan mengandung 40 ribu hingga 80 ribu bakteri per 100 ml air sungai Gangga. Bayangkan akibatnya jika masuk ke darah para jemaah Hindu tersebut. Tapi seperti yang Doktor India tersebut katakan saat ditanya mengapa ia tetap rutin melakukan ritual pemandian suci di sungai Gangga, bahwa “ ini bukan persoalan pilihan tapi persoalan keyakinan”
Jika setiap orang membenarkan keyakinan terhadap apa yang mereka percaya, inilah sebagai bentuk suatu kefanatikan. Pencitraan seseorang terhadap kefanatikan orang lain, tidaklah dapat terukur kecuali dari sudut kefanatikan masing-masing. Karenanya jika seorang mengaku berfaham liberal namun masih mengatakan fundamentalis sebagai faham yang fanatik (dalam artian “buruk” oleh sudut pandang mereka sendiri), maka pengusungan persamaan hak berkepercayaan dan berkeagamaan patut dipertanyakan kembali kepadanya.
Demikian pula kenikmatan yang didapat dari keyakinan yang dipercaya kebenaranya, seperti yang dikatakan oleh Nasrudin saat merasa telah mengeluarkan bulan dari sumur, atau doktor India dan contoh-contoh lainnya yang disebutkan di atas, mereka diumpamakan seperti seorang yang punya mata tapi tak bisa melihat, punya telinga tapi tak mendengar, namun hati tetap merasakan nikmatnya keyakinan yang mereka akui kebenarnnya tidaklah absolute dan meragukan.
Jika demikian, apalagi yang membatasi rasa kenikmatan dari suatu keyakinan yang nyata-nyata dijamin kebenaranya?Nikmat berIslam dan fanatik akan kebenaran Al Qur’an, Kalamullah yang dijamin Kesempurnaan isinya oleh SANG MAHA PEMILIK KALAM, Allah Azza wa Jalla.
“ Alif Laam Miim. Inilah Kitab itu (Al Qur’an), tidak ada keraguan di dalamnya,petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”
Al Baqarah : 1-2
“ Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”
Al Hijr : 9
oleh Arszca W
Sumber : Al Qur’anul Kariim, NGC, 202 jokes of Nasruddin Hodja, God Without Religion (Sankara Saranam)